Pusat Informasi Kebudayaan Melayu

Peribahasa

Peribahasa Dalam Kehidupan Melayu

Dahulu, ketika seorang ayah melihat anaknya bercakap dengan sombong atau berkata dengan kasar langgar sambil membesar-besarkan dirinya, orangtua itu lazimnya dengan arif berkata: "Nak, tong kosong itu nyaring bunyinya" atau dikatakannya: "Nak, kalau mau dihargai orang, bercakap jangan sebarang-barang, sebab adat kita tidak menyukai orang "besar kepala" atau orang yang "besar cakap". Ketika seorang ibu melihat anaknya bekeija dengan lamban dan bermalas-malas, ia akan berkata: "Nak, kalau bekerja jangan suka berlalai-lalai "macam siput meniti batang, pagi habis petang terbuang". Ketika seorang tua menengok sejawatnya menceritakan keburukan saudara mara atau sesama warganya, ia akan memberi nasehat dengan mengatakan: "Tak usahlah awak bercakap buruk memburukan saudara seperti itu, sebab perbuatan itu sama artinya dengan "mengoyak baju di badan" membuka aib malu diri dan kaum sendiri'. Ketika seorang sahabat menengok temannya "mabuk kepayang" merindukan seseorang yang tidak mungkin dapat dijadikan isterinya, ia akan berkata: "Sudahlah, lupakan saja si Zulaicha itu, sebab tak mungkin awak dapat meminangnya, supaya awak tidak dianggap orang "bagaikan pungguk merindukan bulan".

Selengkapnya

Permasalahan Dalam Memahami Peribahasa

Di banyak negeri dan puak Melayu masa kini, untuk memahami peribahasa memang menghadapi berbagai masalah. Masalah itu dapat berpunca dari ketidak tahuan orang mengenal makhluk atau benda-benda yang dijadikan inti peribahasa, terutama bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan. Nama- nama hewan, tumbuhan misalnya, sebagian masih dikenal dan sebagian besar sudah terlupakan, bahkan hewan, tumbuhan atau benda-benda dimaksud sekarang sudah tidak ada lagi. Padahal, pemahaman akan lebih mudah, apabila orang mengenal sumber asalnya, sehingga mereka dapat menghayati, dan memahami nilai-nilai asas yang ada di dalam peribahasa itu.

Selengkapnya

Uraian Singkat Tentang Latar Belakang Lahirnya Peribahasa Dalam Kehidupan Orang Melayu

Ungkapan adat Melayu (Riau) mengatakan: "Tanda orang berbangsa, arif menyimak peribahasa" atau dikatakan: "Tanda orang arif dan bijak, petuahnya cukup peribahasanya banyak". Di dalam ungkapan lain dikatakan: "Di dalam peribahasa, petunjuk banyak petuahpun ada", atau dikatakan: "Yang disebut peribahasa, maknanya dalam tujuan mulia". Ungkapan-ungkapan ini mencerminkan pentingnya peribahasa dan pemahaman terhadap makna yang terkandung di dalamnya, yang menjadi acuan dan rujukan dalam kehidupan orang Melayu. Hal ini dipertegas lagi dengan ungkapan: "Di dalam memberikan tunjuk ajar, peribahasa disimak petuahnya didengar"', atau dikatakan: "Supaya petuah dikekalkan orang, kepada peribahasa kita berpegang". Karenanya, orangtua-tua Melayu mengatakan: "Apabila mendengar peribahasa, banyaklah yang terasa"', atau dikatakan: "Siapa faham peribahasa, tunjuk ajarnya akan terasa".

Selengkapnya

Hidup Tiada Bermaruah

Apabila hidup tiada bermaruah

Kemana pergi dipandang rendah

Hidup sengsara mati pun susah

Akhirnya masuk ke dalam pelimbah 

Tenas Effendy

Maruah Dalam Ungkapan

Apabila hendak menegakkan maruah

Keyakinan diri jangan berubah

Semangat bangkit hati pun tabah

Menghadapi cabaran tidakkan goyah

Hidup terpandang mati bertuah

Tenas Effendy

Santun Bertenggang Rasa

Adat hidup sama serumah

bermulut manis bermuka ramah,

adat hidup sama sekampung

jauhkan sifat angkuh dan sombong

Tenas Effendy

Kesantunan Melayu

Apabila hidup santun dan sopan

Duduk beramai banyaklah kawan

Ke laut ke darat tiada halangan

Hidup sejahtera dirahmati Tuhan

Tenas Effendy