Pusat Informasi Kebudayaan Melayu

Memotong Rambut Bayi

Di dalam kehidupan masyarakat Melayu, anak amatlah diperhatikan. Itulah sebabnya, sejak anak di dalam kandungan ibunya, sampai kawin, diberlakukan berbagai upacara, yang di dalamnya terkandung lambang-lambang tertentu dengan arti dan makna tertentu pula.

Ketika usia kandungan tujuh bulan, dilakukan Upacara "Menyirih” atau ”Menujuh Bulan” atau “Melenggang perut”. Tujuannya adalah untuk mendoakan keselamatan bagi bayi dan ibunya yang hamil itu dan mudah waktu melahirkan. Selama ibu hamil, diberlakukan pula berbagai "pantang larang", agar bayi yang dikandung itu sehat sejahtera dan sempurna lahiriah dan batiniahnya.

Ketika bayi lahir, ke mulut bayi dioleskan madu lebah, lambang dari harapan agar bayi itu kelak "bermulut manis", bijak, dan fasih dalam berkata-kata. Selanjutnya, bila bayi itu laki-laki di kupingnya dibisikkan azan dan bila perem­puan dibisikkan Qamat, sebagai lambang menanamkan ajaran agama Islam pada si bayi.

Selanjutnya dilakukan pula upacara “Mandi Air Jejak Tanah” yang diikuti dengan Upacara »Memotong Rambut» atau »Mencukur Kepala Bayi", yang waktunya antara anak berusia 5 hari sampai berusia 6 bulan, atau dapat dimulai setelah tali pusar bayi tanggal sampai berusia 6 bulan.

Upacara ini mengandung makna antara lain;

"Mandi Air"

lambang mengenalkan bayi kepada "air" yang disebut “air hidup” atau “laut kehidupan”. Bayi diperkenalkan kepada salah satu unsur pokok yang menjadi sumber kehidupan makhluk di bumi ini, dan air pula yang menjadi sa­lah satu unsur kejadian manusia. Dari sisi lain, air adalah laut, laut ada­lah samudera luas yang penuh ombak dan ge­lombang, penuh bahaya dan tantangan, demi­kianlah ibarat kehidupan Ini, berlayar di samudera luas yang penuh bahaya dan tanta­ngan.

Pepatah adat mengatakan, "tak kenal la­ut akan hanyut, tak kenal darat akan sesat".

“Jejak Tanah”

adalah lambang mengenal bumi, tempat segala makhluk hidup di atas dan di dalamnya, dan sebagai salah unsur kejadian manusia. Dari sisi lain, melambangkan pengenalan kepada alam lingkungan dimana si bayi akan hidup kelak, pepatah adat mengatakan, "beribu ke bumi berbapak ke langit" atau "dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung, dimana ranting dipatah, disana air disauk". Sikap ini menjadi salah satu acuan dalam kehidupan si bayi nantinya.

“Memotong Rambut”

Upacara ini selain melambangkan membersihkan kepala dari segala yang kotor,sekaligus mengandung makna yang ada kait­annya dengan alat dan kelengkapan yang dipergunakan dalam upacara itu, antara lain:

  • buaian (ayunan) bayi yang dilapis de­ngan kain 7 lapis, bermakna bahwa hi­dup di dunia ini dikandung oleh "bumi yang tujuh lapis" dan "langit yang tujuh lapis" pula. Kalau hidup dengan baik dan benar, kelak akan mendapat imbalan "surga yang tujuh lapis", dan seba­liknya, bila jahat akan masuk ke neraka yang Juga tujuh lapis.
  • Dian atau lilin, melambangkan cabaya kehidupan.
  • kelapa yang bertebuk dan kulitnya di­ukir lambang kehidupan yang serba gu­na .
  • tebu lambang kemanisan hidup dan rela mengorbankan dirinya untuk membahagiakan orang lain.
  • air percung, lambang hidup yang memba­wa wewangian, nama yang harum dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  • bunga tujuh warna, melambangkan kasih sayang orang tua terhadap anaknya, sekaligus untuk menolak bahaya dan menjauhkan sikap yang keras atau kasar.
  • telur ayam, sebagai lambang hidup ber­kaum kerabat, berketurunan.
  • tepung tawar, lambang keselamatan, menjauhkan segala mara bahaya dan doa un­tuk keselamatan bayi dan keluarga ser­ta masyarakatnya.

Upacara ini diawali dengan menepung tawari bayi, kemudian memandikannya, menjejakkan kakinya ke tanah (pada dulang berisi tanah) dan kemudian memotong rambutnya. Apabila waktu upacara itu berlangsung "upah bidan" belum dibayar, maka upacara ini dimulai dengan membayar upah bi­dan. Selanjutnya barulah rangkaian acara seperti urutan di atas dilakukan.

Di kalangan masyarakat Melayu Riau, terdapat berbagai variasi dalam melaksanakan upacara ini. Namun, tujuan utamanya tetap sama. Variasi-variasi itu misalnya, ada yang langsung membawa bayi itu ke sungai atau ke tepian atau ke te­pi laut, disanalah bayi itu dimandikan, diarak beramai - ramai dengan iringan alat musik dan permainan silat. Kemu­dian bayi itu dibawa ke rumah, lalu dicukur kepalanya. Ca­ra mencukurnya berbeda-beda pula. Ada yang mencukurnya sampai gundul seluruh kepala dan ada pula yang meninggalkan "jambul" (sebagian rambut) pada ubun-ubun bayi. "Jambul" ini melambangkan "ubun-ubun masih lembut", yakni bayi masih dalam keadaan lemah, dan sekaligus untuk menolak bala. Cara lain, sebelum dicukur, dilakukan pula upacara "menin­dik" bayi (khusus bagi bayi perempuan), yakni melobangi bagian bawah telinga bayi untuk tempat anting-anting. Variasi lainnya, adalah dengan mengumumkan nama bagi sibayi, disebut "melahirkan nama". Di dalam pepatah adat dise­but "barang bersebut orang bernama". Hal ini melambangkan pula hadirnya seorang "anak manusia" yang kelak akan menjadi anggota masyarakatnya. Nama itu dipilih nama yang "baik"

Yang mengandung makna tertentu oleh orang tua dan keluarga dekatnya, atau oleh orangtuanya yang dipercayakan mereka. Atau nama itu diambil dari peristiwa pertama yang terjadi setelah bayi lahir, atau peristiwa pertama ketika membawa bayi turun ke tanah atau mandi ke sungai.

Misalnya, bila bayi lahir, orangtuanya atau anggota keluarga dekatnya bertanya, hari apakah itu, lalu ada yang mengatakan hari sabtu, maka si bayi itu dinamakan si Sabtu. Ada pula yang menamakannya sesuai menurut bulan kelahiran bayi, misalnya si Rajab, si Sya’ban, si Syawal dsbnya. Atau dikaitkan dengan apa yang pertama sekali dilihat ayah bayi ketika bayi lahir, misalnya si Bintang, dll. Atau diambil dari nama-nama nenek moyan yang dianggap “bertuah” atau dari nama-nama Nabi dan Rasul atau nama-nama lain yang dikagumi keluarga itu.

Dalam masyarakat Melayu Kepulauan dan Pesisir, upacara memotong rambut atau mencukur kepala bayi diiringi dengan barzanji dan marhaban, tetapi di kalangan masyarakat petalangan, iringan itu tidak ada. Yang diiringi musik silat, gambang atau tertawak (gong) dan celempong.

Upacara ini ditutup dengan santap bersama dan membacakan doa selamat.

Hidup Tiada Bermaruah

Maruah Dalam Ungkapan

Santun Bertenggang Rasa

Kesantunan Melayu